PGE Bukukan Produksi Listrik Panas Bumi 4.114 GWh
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berhasil membukukan rekor produksi ketenagalistrikan dari pembangkit panas bumi dengan capaian total mencapai 4.114 GWh sepanjang rentang waktu Januari hingga September 2026. Realisasi produksi listrik panas bumi selama kurun waktu sembilan bulan pertama di tahun 2026 tersebut memperlihatkan adanya peningkatan sebesar 9,8 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun 2025, yang mana pada saat itu tercatat sebesar 3.747 GWh.
Menyusul capaian volume kelistrikan yang telah dihimpun hingga penutupan kuartal ketiga tahun 2026, PGE menetapkan target produksi tahunan pembangkit listrik panas bumi secara menyeluruh dapat mencapai sekitar 5.255 GWh pada tahun 2026. Penetapan angka target produksi sebesar 5.255 GWh tersebut menjadi sasaran operasional tahunan yang ingin dipenuhi oleh perseroan dari seluruh fasilitas pembangkit listrik panas bumi yang dikelolanya hingga akhir 2026.
Capaian Area Operasional Kamojang, Lumut Balai, dan Lahendong
Terkait dengan distribusi realisasi produksi dari masing-masing wilayah kerja pembangkit, Area Kamojang tampil sebagai penyumbang terbesar terhadap total keluaran listrik perseroan. Sepanjang Januari hingga September 2026, Area Kamojang mencatatkan perolehan produksi listrik panas bumi sebesar 1.438 GWh. Raihan dari Area Kamojang ini memberikan kontribusi sekitar 35 persen terhadap keseluruhan total produksi listrik yang dibukukan oleh PGE pada periode sembilan bulan tersebut.
Di bawah kontribusi Area Kamojang, pasokan listrik panas bumi perseroan disokong oleh kinerja operasional Area Lumut Balai dan Area Lahendong. Area Lumut Balai mencatatkan angka produksi kelistrikan sebesar 702 GWh pada periode Januari sampai dengan September 2026. Sementara itu, Area Lahendong mencatatkan volume produksi listrik panas bumi sebesar 658 GWh pada rentang waktu yang sama, sekaligus menempatkan area tersebut sebagai salah satu penopang utama produksi PGE.
Tingkat Keandalan Pembangkit dan Pertumbuhan Pendapatan
Bersamaan dengan pencapaian volume produksi, PGE juga mencatatkan capaian operasional dari indikator keandalan pembangkit listrik hingga September 2026. Kesiapan fasilitas pembangkit perseroan yang diukur melalui Equivalent Availability Factor (EAF) tercatat mencapai 98,51 persen hingga September 2026. Selain itu, tingkat pemadaman atau gangguan yang diukur melalui Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) milik PGE tercatat sangat minim, yakni hanya sebesar 0,21 persen pada periode yang sama.
Kinerja positif di sektor pembangkitan energi tersebut berjalan beriringan dengan realisasi performa keuangan perseroan pada tahun berjalan. Pada paruh pertama tahun 2026, tepatnya pada periode semester I-2026, PGE sukses membukukan pendapatan usaha sebesar US$79,61 juta. Capaian perolehan pendapatan pada semester I-2026 tersebut mengalami pertumbuhan atau kenaikan sebesar 15,48 persen bila dibandingkan dengan perolehan pada periode sebelumnya.
Target Peningkatan Kapasitas Terpasang Jangka Panjang
Mengenai rencana pengembangan bisnis di masa mendatang, PGE telah menetapkan target strategis terkait ekspansi kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi yang terpasang. Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi miliknya dapat mencapai 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028 mendatang sebagai tonggak pencapaian tahap pertama.
Melanjutkan sasaran pertumbuhan kapasitas pada tahun 2028 tersebut, PGE turut menyusun target penambahan kapasitas terpasang untuk jangka waktu yang lebih panjang. Berdasarkan target yang telah ditentukan, perseroan membidik peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi agar dapat bertambah secara bertahap hingga menyentuh angka 1,8 GW pada tahun 2034.
