Menperin Tinjau Cimory: Impor Susu 80% dan Digitalisasi

Menperin Muhammad Sarmuji melakukan kunjungan kerja ke pabrik PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory) yang berlokasi di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung penerapan teknologi digital di rantai pasokan susu, memahami ketergantungan impor bahan baku, serta mengevaluasi kontribusi industri makanan dan minuman terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kehadiran menteri juga menjadi momentum untuk menghargai pencapaian Cimory yang baru memperoleh penghargaan industri halal tingkat nasional.

Ketergantungan Impor dan Upaya Meningkatkan Produksi Domestik

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan bahan baku susu untuk industri pengolahan di tingkat nasional pada 2025 tercatat sekitar 4,95 juta ton setara susu segar. Sebagian besar, yakni sekitar 80 persen, masih dipenuhi melalui impor, sehingga ketergantungan pada pasokan luar negeri tetap tinggi. Cimory sebagai salah satu pemain besar berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan memperluas jaringan peternak dalam negeri. Sepanjang 2025, perusahaan tersebut bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan berhasil menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar domestik. Saat ini, kontribusi susu dalam negeri terhadap kebutuhan bahan baku Cimory berkisar antara 20 hingga 30 persen, yang berasal dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Digitalisasi di Tempat Penampungan Susu

Hingga tahun 2026, program digitalisasi telah diterapkan di 96 titik penampungan susu yang tersebar di sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Inisiatif ini melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah, memungkinkan pencatatan volume, kualitas, dan jadwal pengambilan susu secara real‑time. Dengan sistem berbasis teknologi informasi, koperasi dapat memantau produksi setiap peternak, mempercepat proses pembayaran, serta mengurangi kebocoran data. Penerapan ini diharapkan meningkatkan efisiensi rantai pasokan dan mendorong transparansi, sehingga peternak merasa lebih termotivasi untuk menjaga kualitas susu yang dihasilkan.

Pertumbuhan Industri Makanan Minuman dan Investasi

Pada semester pertama 2026, sektor makanan dan minuman mencatat pertumbuhan sebesar 6,77 persen dan menyumbang 41,86 persen terhadap Produk Domestik Bruto industri pengolahan nonmigas. Perkembangan ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat serta ekspor yang mulai pulih. Realisasi investasi di sektor tersebut mencapai 47,74 triliun rupiah, dengan komposisi investasi asing 19,46 triliun rupiah dan investasi domestik 28,28 triliun rupiah. Aliran modal tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang industri pangan nasional.

Sebagai bukti komitmen terhadap standar kualitas dan kehalalan, Cimory baru‑baru ini meraih penghargaan Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2026 dalam kategori Industri Minuman Halal Terbaik I untuk golongan industri besar. Penghargaan ini memperkuat posisi perusahaan di pasar dalam negeri dan membuka peluang ekspor ke negara‑negara yang mensyaratkan sertifikasi halal.

Baca juga

Sumber

Similar Posts