Bima Arya Soroti Ketenagakerjaan Hijau di ICOPAC 2026
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto hadir sebagai pembicara dalam perhelatan The Fifth International Conference of Public Administration and Governance (ICOPAC) 2026 yang digelar di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Konferensi berskala internasional tersebut mengusung tema ‘Bridging Public Administration, Educational Administration, Library and Information Science for Sustainable Governance’. Dalam forum akademik tersebut, Bima Arya menyampaikan pandangan terkait keterkaitan antara pencapaian target ekonomi nasional, kondisi riil angkatan kerja, serta pentingnya tata kelola pembangunan yang ramah lingkungan.
Keseimbangan Target Pertumbuhan dan Kerentanan Sektor Informal
Dalam pemaparannya, Bima Arya menyoroti target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok pada angka 8 persen. Menurutnya, ambisi pertumbuhan tersebut wajib diimbangi secara konkret dengan penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs yang bersifat berkelanjutan. Langkah ini dipandang mendasar guna memastikan bahwa ekspansi ekonomi mampu menjawab kebutuhan masa depan tanpa mengorbankan daya dukung ekosistem.
Urgensi penyediaan lapangan kerja baru yang berkualitas juga dilandasi oleh potret ketenagakerjaan domestik. Bima Arya memaparkan bahwa saat ini proporsi tenaga kerja di Indonesia didominasi oleh sektor informal, dengan persentase mencapai sekitar 60 persen. Tingginya angka pekerja di sektor informal ini menjadi perhatian serius lantaran kelompok tersebut dinilai sangat rentan ketika menghadapi tekanan dan dinamika perekonomian.
Rekonstruksi Indikator Keberhasilan Pembangunan Nasional
Terkait arah kebijakan nasional, Wakil Menteri Dalam Negeri menegaskan perlunya memperluas tolok ukur kesuksesan pembangunan. Menurutnya, indikator capaian pembangunan tidak boleh lagi hanya dipandang secara sempit melalui besaran angka pertumbuhan ekonomi serta nilai masuknya investasi semata.
Bima Arya menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan yang menyeluruh harus mencakup peningkatan kualitas pekerjaan yang layak bagi warga, efektivitas langkah pengentasan kemiskinan, serta kepastian terjaganya kelestarian ekologi. Keselarasan berbagai aspek tersebut dipandang sebagai fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berkelanjutan sesuai dengan tema besar yang dibahas di FIA Universitas Brawijaya.
Laporan Terpisah Dugaan Kasus Keracunan Pelajar
Di tempat terpisah, informasi terkait isu kesehatan masyarakat mencatat adanya laporan insiden dugaan keracunan. Sebanyak 103 siswa dari institusi pendidikan SMPN 2 Cisarua dilaporkan mengalami dugaan keracunan yang bersumber dari pelaksanaan program MBG.
