Gus Baha Bahas Berpikir Sempit, Reformasi Gender, Al-Qur’an

Kyai Haji Ahmad Bahauddin Nursalim, yang akrab disapa Gus Baha, menggelar kajian rutin pada Selasa, 27 Oktober 2026 pukul 05.30 WIB. Kajian yang dibuka dengan membaca kitab Ihya’ Ulumuddin itu disiarkan langsung melalui saluran YouTube Progresif TV dan Al Mutabarik. Dalam kesempatan tersebut, Gus Baha mengangkat beberapa isu keagamaan dan sosial, mulai dari bahaya berpikir sempit hingga urgensi reformasi gender yang seimbang. Acara tersebut juga dihadiri oleh Gus Ali Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, sebagai tamu undangan.

Bahaya Berpikir Sempit dan Keterkaitan Reformasi Gender

Gus Baha menyinggung bahaya berpikir sempit yang dia sebut sebagai spesialisasi berlebihan. Menurutnya, pola pikir semacam itu membuat seseorang kehilangan perspektif menyeluruh. Dalam konteks reformasi sosial, ia menegaskan bahwa upaya memperbaiki kondisi perempuan, atau yang disebut islahun nisa, tidak akan berjalan efektif jika tidak dibarengi dengan perbaikan terhadap kaum laki-laki, atau islah ar-rijal. Keduanya, kata dia, saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan dalam membangun tatanan masyarakat yang adil.

Kritik terhadap Manuskrip Al-Qur’an Karya Perorangan

Soal keotentikan teks suci, Gus Baha menyoroti manuskrip Al-Qur’an kuno yang ditulis oleh individu secara sendirian, yang dalam istilah keilmuan disebut rajulun wahid. Ia menilai manuskrip semacam itu memiliki potensi kesalahan yang tinggi karena tidak melewati proses penyaringan melalui komite editor, berbeda dengan mushaf Utsmani yang disusun secara kolektif. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti pentingnya mekanisme verifikasi bersama dalam menjaga keaslian teks agama.

Kebaikan Harus Bersifat Komunal Melalui Muktamar

Gus Baha juga mengemukakan analogi logika medis untuk menggambarkan kecenderungan manusia melupakan nikmat dasar. Ia menceritakan contoh seseorang yang diberi jangka hidup dua bulan, lalu fokus mencari obat di negara jauh, namun lupa bersyukur atas nikmat oksigen dan makanan sehari-hari yang justru menopang kehidupannya. Dari analogi tersebut, ia menarik kesimpulan bahwa kebaikan seharusnya dikerjakan secara komunal, bukan individual. Ia mengutamakan semangat muktamar atau pertemuan bersama untuk saling memperbaiki dalam kebaikan, sesuai ajaran tamamiru bainakum bima’ruf. Gus Baha sendiri merupakan putra almarhum KH Nursalim al-Hafidz dan saat ini mengasuh Pondok Pesantren Tahandzurul Qur’an.

Baca juga

Sumber

Similar Posts