Jensen Huang Ungkap Biaya Software NVIDIA US$2.000 per GPU
CEO NVIDIA, Jensen Huang, mengungkapkan estimasi biaya penggunaan seluruh perangkat lunak NVIDIA untuk menjalankan agen AI di fasilitas komputasi AI dapat mencapai sekitar US$2.000 per GPU per tahun. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi tanya jawab di ajang GTC Berlin yang digelar pekan lalu, tepatnya minggu sebelum 26 Oktober 2026. Laporan pertama kali mengenai hal ini diterbitkan oleh The Register.
Detail Biaya Lisensi dan Perbandingan dengan Harga Resmi
Angka US$2.000 per GPU per tahun tersebut menjadi sorotan karena jauh lebih rendah dibandingkan harga lisensi resmi NVIDIA AI Enterprise. Saat ini, langganan setahun untuk NVIDIA AI Enterprise — yang sudah mencakup dukungan — dibanderol US$4.500 per GPU. Sementara untuk lisensi lima tahun, biayanya mencapai US$18.000 per GPU. Berdasarkan kurs konversi Oktober 2026, nominal US$2.000 setara dengan sekitar Rp36.000.000.
Huang juga menyampaikan skenario teoritis: jika ada satu juta GPU yang menggunakan lisensi seharga US$2.000 per tahun, pendapatan tahunan NVIDIA dari segmen ini berpotensi menyentuh US$2 miliar. Angka ini mengindikasikan skala pasar yang masif bagi infrastruktur software AI generatif.
OpenShell Reference Architecture untuk Ekosistem Agen AI
Di kesempatan yang sama, Huang memperkenalkan OpenShell Reference Architecture. Teknologi ini dirancang untuk mendukung pengoperasian agen AI. OpenShell merupakan runtime open-source yang dibangun khusus untuk menjalankan agen AI di dalam lingkungan terisolasi atau sandbox. Arsitektur referensi ini diharapkan memudahkan pengembang dan perusahaan dalam mengelola keamanan serta eksekusi tugas agen AI secara terstruktur.
Implikasi bagi Industri Komputasi AI
Pengungkapan biaya ini memberikan gambaran baru bagi perusahaan yang merencanakan investasi infrastruktur AI skala besar. Perbedaan harga antara estimasi Huang dan daftar harga resmi NVIDIA AI Enterprise menimbulkan pertanyaan tentang model penjualan yang mungkin diterapkan, apakah melalui program khusus, diskon volume, atau paket bundling yang berbeda. Di sisi lain, hadirnya OpenShell sebagai solusi open-source menambah pilihan bagi organisasi yang menginginkan fleksibilitas tanpa terikat sepenuhnya pada lisensi komersial penuh.
