SMK Gunung Kidul Bangun Usaha Pengiriman Jamur Tiram 150 kg
Muhammad Alfa Priandito, siswa SMK Al Hikmah Gubukrubuh yang berdomisili di Gunung Kidul, Yogyakarta, telah membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk memulai usaha. Dengan modal awal satu juta rupiah yang diberikan oleh ayahnya, ia memulai bisnis pengiriman jamur tiram ke Pasar Wonosari. Awalnya, ia hanya mampu mengangkut 20 kilogram jamur menggunakan sepeda motor bronjong. Laporan yang diterbitkan pada Senin, 26 Oktober 2026 pukul 21.14 WIB oleh reporter dan editor Andika Putra, dengan sumber DISWAYMALANG.ID dan MBOIS ILAKES, mencatat perjalanan usaha tersebut.
Awal Mula Usaha dengan Modal Terbatas
Priandito memulai usaha ini saat masih menjalani pendidikan di sekolah menengah kejuruan. Modal awal sebesar satu juta rupiah berasal sepenuhnya dari bantuan ayahnya. Dengan dana tersebut, ia membeli jamur tiram dari petani sekitar dan mengangkutnya menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi dengan bronjong di bagian belakang. Rute pengiriman menuju Pasar Wonosari dipilih karena pasar tersebut menjadi pusat perdagangan sayur dan buah bagi masyarakat sekitar. Keterbatasan modal membuat ia bergantung pada kendaraan pribadi yang sudah dimiliki, serta tenaga sendiri untuk memuat dan menurunkan barang.
Perjalanan dari Sepeda Motor Bronjong
Di fase awal, usaha menghadapi tantangan penjualan yang tidak stabil. Dari 20 kilogram jamur yang diangkut setiap hari, terkadang hanya tiga hingga lima kilogram yang terjual. Sisa jamur yang tidak laku menjadi beban karena sifat produk yang mudah busuk jika tidak segera dikonsumsi. Namun, Priandito tidak menyerah. Ia terus mempelajari pola permintaan pasar, membangun relasi dengan pedagang di pasar, serta memastikan kualitas jamur yang dikirimkan selalu segar. Konsistensi dalam menjaga kualitas dan ketepatan waktu pengiriman perlahan membuka kepercayaan pembeli. Ia juga belajar mengatur waktu antara jam sekolah dan jam pengiriman yang dimulai pagi hari.
Peningkatan Volume hingga 150 Kilogram per Hari
Seiring berjalannya waktu, volume permintaan meningkat signifikan. Saat ini, pengiriman jamur tiram mencapai 1,5 kuintal atau 150 kilogram per hari. Peningkatan ini didorong oleh jaringan pelanggan yang semakin luas, tidak hanya di Pasar Wonosari tetapi juga ke toko-toko kelontong dan restoran di sekitarnya. Priandito kini mengelola jadwal pengiriman yang lebih terstruktur dan mulai mempertimbangkan penambahan armada untuk menunjang distribusi. Prestasi ini menjadi contoh nyata bagaimana usaha mikro dengan modal minim dapat berkembang melalui ketekunan dan pemahaman pasar lokal. Kisahnya juga menjadi inspirasi bagi remaja lain di Gunung Kidul untuk berani memulai usaha sendiri.
